Posts Tagged ‘kabah’
Mekkah, Hajar Aswad dan Restu Ibu
Salam jumpa di blog ku ini, akan kuceritakan sedikit kisah dan pengalaman religiku di Mekkah pada waktu Haji 2004 yang dengan segala ridho dan izin Nya dari mulai mendaftar sampai berangkat melaksanakan dan pulang semua dilalui dengan lancar, padahal pada waktu itu ada sekitar 3000 an lebih calon jemaah haji tertunda.
Seperti biasa kegiatan rutin aktifitas berhaji kulakukan bersama ibuku di Mekkah, bergetar hatiku melihat Kabah pertama kalinya namun yang membuat hatiku terkejut adalah pemandangan di suatu sudut Kabah, di situ konsentrasi manusia begitu banyak berdesak-desakan laki-laki perempuan berusaha menuju ke suatu titik, tempat apakah itu pikirku? lewat seorang jemaah asal Turki akhirnya kutau tempat itu adalah tempat yang paling dituju semua jemaah haji tempat paling favoritlah begitu kiranya. Ya! tempat itu bernama Hajar Aswad sebuah sudut Kabah yang terdapat batu dari langit yang konon dulunya berwarna jernih putih tapi karena usapan ciuman dari manusia-manusia yang tentunya tak lepas dari kesalahan dan dosa akhirnya berubah warna menjadi hitam.
Benar2 dahsyatnya antrian untuk mencium batu ini tak pernah berhenti sepanjang masa, kubertanya dalam hati mampukah aku dan ibuku yang kecil mungil melawan mereka berlomba mencium Hajar Aswad? yang mana jemaah2 lain terutama dari Afrika dan Timur Tengah begitu besar2 dan ukuran kaki tangan mereka pun besar pikirku. Langsung aku mencoba menuju titik itu berdesakan maju sabar maju melangkah, hasilnya jangankan mencium, mendekat saja begitu susah, tubuhku lunglai, benar2 susah lain kali akan kucoba pikirku.
Malam itu sehabis Isya aku menghampiri ibuku dengan niat minta doa restu ibuku aku ingin berjuang dalam berdesak-desakan untuk suatu misi yaitu mencium Hajar Aswad, ibuku memelukku dan mencium keningku memberi restu, langsung aku terjun menuju lautan manusia yang sedang tawaf terus maju pantang mundur, entah mengapa malam itu tenagaku begitu prima energiku prima, begitu mudahnya aku membelah lautan manusia sampai aku sendiri tak sadar kalau aku sudah berada di depan suatu benda mengkilap keperakan dengan dalamnya yang cekung gelap, benda apakah ini?? ternyata batu Hajar Aswad ada di dalam cekungan lubang itu yang lebarnya hanya cukup selebar kepala kita, langsung aku masukan kepalaku dan kuciumlah batu itu. Tahukah kalian rasanya batu itu seperti apa?? kupikir karena batu maka teksturnya keras seperti batu kebanyakan tapi batu ini rasanya lain yakni kita seperti memakai topeng karena berada di cekungan dan permukaan batu itu kenyal tampaknya telah dilapisi wax / lilin, sensasi di dalam lubang begitu hening tak terdengar suara hiruk-pikuk manusia, lalu ku bermunajat berdoa sampai aku tersadar ribuan orang di belakangku menunggu lalu kulepaskan kepalaku dari lubang itu dan terdengarlah gemuruh suara manusia, secara otomatis tubuhku terhempas mengalir ke belakang terhempas keluar dari kumparan antrian desakan.
Ssetelah itu lalu aku menuju Hijir Ismail, kuusahakan sembahyang sunah di situ, lalu ku menuju pintu Kabah menyentuhnya. Aku ingat ibuku yang telah menunggu ku cukup lama, aku berusaha kembali ke arah ibuku berada, ternyata di dalam upayaku berjalan membelah lautan manusia karena pintu Kabah terletak dekat dengan sudut Hajar Aswad maka posisiku mendekati Hajar Aswad lagi dan kulihat temanku Haji Suparman telah berada di moncong Hajar Aswad, diapun melihat aku dan memberi kode agar aku segera ke belakangnya, kesempatan itu tak ku sia-siakan jadilah aku mencium Hajar Aswad untuk kedua kalinya. Malam itu Subhanallah ALLAH memberikan kemudahan kedua kalinya untukku, mungkin ini untuk ibuku – aku mewakilinya. Begitu selesai tubuhku terasa diangkat orang dan terlempar keluar dari kumparan antrian lagi, kutemui ibuku yang masih tampak komat-kamit berdoa dan kuceritakan keberhasilan ini padanya. Itulah bukti nyata doa seorang ibu pada anaknya, ridhoNya adalah ridho ibu kita.
Pergi Haji Wajib Jika (Ku) Mampu
Itulah sepenggal judul tulisanku yang aku tulis dalam rangka menyambut bulan Haji tahun ini. Pada waktu itu aku walaupun aku sudah bekerja tak terpikirkan olehku untuk bisa berkurban, gaji minim gali lubang tutup lubang, apalagi pergi Haji. Miris hatiku jika hari Kurban datang, mushola dekat rumah ku tidak ada aktifitas pemotongan hewan kurban, gimana tidak wong tidak ada yang berkurban, kalau ingin ada pemotongan harus mendatangi masjid2 besar dengan membawa proposal, itupun sering hanya mendapat jatah kupon2 bukan seekor kambing.
Melihat kondisi seperti itu dalam hatiku berjanji jika ku mampu nanti aku akan berkurban, kalo bisa sapi, Bismillah Amien dalam hatiku berjanji. Tibalah bulan Haji tahun 97, di tahun itulah dream come true akhirnya seekor sapi dapat ku korbankan ke musollah ku, begitupun tahun-tahun berikutnya ku dapat melaksanakan ibadah Kurban ku dengan lancar, sampai suatu saat kuberpikir aku mampu berkurban sapi atau kambing 7 tapi mampukah aku pergi Haji, keliatannya belum … kesanggupan ku secara finansial hanya mampu berkurban dulu, step by step dulu pikirku dalam hati, Allah Maha Mengetahui dan Maha Pengatur, berkurbanlah dulu.
Sampailah pada tahun 2004, tahun dimana Allah memberikan kesempatan dan undangan Nya padaku, berangkatlah aku dan ibuku dengan segala kemudahan yang diberikan Nya. Akhirnya aku mampu melaksanakan perintah Nya bersama orang yang paling tercinta dan tersayang di dunia, diundang Nya aku berdua ibuku kerumah Nya dengan ridho Nya. Cerita mengenai kita berdua di tanah suci akan aku tulis di sesi berikutnya.
Maaf tulisan ini hanya sekedar motivasi teman-teman agar selalu berikhtiar berdoa percaya dengan rencana Nya, dan selalu ikhlas menjalani kehidupan dunia ini, dan selalu punya niat berkurban dan berjihad harta di jalan Allah SWT.