Archive for 2012
Ormas Gangters dan Premanisme
Jangan ditakuti, tapi bencilah! itulah kata awal saya dalam tulisan ini sekalian pesan moral ku pada khalayak ramai. Sejujurnya mereka muncul setelah era reformasi didasari pemikiran para mahasiswa yang bersatu yang memunculkan kekuatan dahsyat menumbangkan kekuatan orba / pak Harto. Kesolidan mahasiswa ditiru, ilmu sapu lidi mereka ditiru, dimotori difasilitasi oleh elite politik, diajari membentuk organisasi dari sruktur hingga ad / art nya. Tujuan awal memang bagus pendidikan politik dan demokrasi seiring hembusan angin reformasi, tetapi sebagian dari mereka kebablasan euphoria, maka yang terjadi adalah munculnya ormas2 bak jamur di musim hujan mengusung bendera etnis agama.
Sekilas menengok ke belakang, dekade tahun 80an, aku teringat di masa itu di Jakarta marak terbentuk kelompok \ geng anak remaja yang diinspirasi film berjudul The Outsiders dibintangi Matt Dillon & Rob Lowe, di setiap kompleks kampung terbentuk klompok2. Aku yang besar di wilayah sekitar Kemanggisan, Slipi, Palmerah, Tanah Abang mengalami perkembangan ini. Begitu juga tahun 70an ada yang namanya Bherland Sartana dll, tapi pada waktu itu klompok2 itu hanyalah klompok knakalan anak remaja karena mode semata atau gaya2an dan yang ngatur negara alias pemerintah adalah berwibawa, aparat keamanan dan para intelejennya bekerja dengan baik, sosok pak Harto sangat disegani dan berwibawa, aparat keamanan masih dipandang.
Pencuri Sandal Jepit dan Anak Dibawah Umur VS Penegakan Hukum
Minggu2 ini di media massa marak dibicarakan perihal anak umur 15 thn mencuri sandal jepit di daerah Palu SulTeng. Banyak komentar terlontar baik di tv maupun di koran dengan segala pandangannya masing2. Terakhir aku melihat seorang Ayu Ting Ting ditanyai pendapatnya mengenai masalah ini disalah satu acara infotainment, dengan lantang dia menjawab diakhir kata2nya yaitu masalah kecil jangan dibesar2kan masalah besar jangan dikecilkan, wooow boleh juga tuh komentar dalam hatiku. Lalu sampailah aku pada kesimpulan pendapatku setelah aku menunggu pendapat dari seseorang yang aku rasa sangat berkompeten dalam menilai masalah2 hukum yang terjadi di Indonesia dan layak dijadikan patokan yaitu komentar Mahfud MD, sang Ketua Komisi Yudisial, komisi yang menangani masalah hukum gitu loch. Yang membuat aku lega pandangannya sama dengan pandanganku mengenai masalah tersebut yaitu keputusan hakim sudah tepat untuk AAL maupun untuk oknum polisi yang menganiaya ALL.
Dalam konteks ini aku Catatan si Cipluk ikut mengomentari dan memberi masukan kepada si objek yaitu AAL, sejujurnya apakah kamu mencuri, jawabnya ya atau tidak. Jika YA maka menurut hemat saya segala opini publik yang selama ini mendukung anda lewat penggalangan sandal dan sebagainya serta ucapan kak Seto yang gigih membela anda karena kapasitas beliau sebagai pemerhati anak dari Komisi Perlindungan Anak adalah tidak tepat, beliau menekankan dampak psikologis anak tersebut atas putusan ini. Menurut pendapatku proses peradilan ini justru untuk pembelajaran hukum pada khalayak ramai, khususnya anak2 remaja seperti halnya AAL, dan pada yang bersangkutan bahwa perbuatan MENCURI adalah tetap MENCURI! dan merupakan perbuatan perilaku tabiat tidak baik yang melanggar norma2 agama dan norma2 hukum yang berlaku di planet bumi ini. Mencuri walau nilai barang sekecil apapun tetap memiliki konsekuensi hukum dan bahkan dalam beberapa kasus pelaku pencurian mengalami penganiayaan massa ketika tertangkap. Diharapkan dampak dari proses peradilan ini adalah psikologis JERA pada anak itu dan anak2 lain.
Dukungan dari masyarakat terhadap kasus pencurian seperti ini dikhawatirkan berakibat akan adanya preseden buruk karena ada kesan kalau tindak pencurian yang dilakukan anak2 dan tertangkap akan mendapatkan dukungan seperti AAL. Padahal kita tau usia2 remaja adalah usia2 rawan dalam pergaulan sehari2, dari yang mulai ikut2an supaya dibilang gaul sampai memang sudah menjadi penyakit kleptomania atau yang karena memang untuk survive kehidupan. Usia mereka memang masih dikategorikan anak2 tapi dari bentuk fisik hasrat dan perilaku mereka sama dengan orang dewasa.
Dukungan masyarakat yang terjadi seperti pengumpulan sandal untuk AAL sebetulnya lain dengan pada waktu kita melakukan dukungan koin untuk Prita. Untuk kasus AAL, saya pribadi tidak sreg karena dukungan ini ditujukan terhadap masalah perilaku buruk yaitu pencurian. Untuk orang tua AAL yang keliatannya tidak menerima putusan hakim, ambil sisi positifnya yaitu efek JERA pada anak itu sehingga dia menjadi anak yang baik tidak mengulangi perbuatannya alias kapok. Untuk para penegak hukum baik polisi jaksa dan hakim tetaplah menjalankan tugasnya dengan baik dan istiqomah, selama kejadian ini pastilah ada keraguan dari mereka dalam mengambil putusan hukum.
Sementara dukungan publik maupun segala macam penggalangan apapun bentuknya adalah untuk menyoalkan keadilan yang dirasa timpang. Kebetulan akhir2 ini ada peristiwa hukum kasus Century, Gayus, Miranda, dsb lalu disandingkan dengan kasus yang mengusung kata “anak dan sandal jepit” yang berkonotasi barang yang tidak berharga atau murah. Sehingga akhirnya dianalogikan hukum seperti pisau yang tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, yang ujung2nya dipolitisasi berkaitan dengan prestasi penegakan hukum di Indonesia di masa pemerintahan SBY ini.
Komentarku ini berlaku jika si AAL adalah benar telah mengakui perbuatannya yaitu mencuri sandal. Tapi kalau yang terjadi si AAL dengan sejujurnya tidak melakukan pencurian itu maka komentarku adalah benar bahwa peradilan itu adalah hal yang sangat disayangkan terjadi dan dukungan seluas2nya harus diberikan kepada AAL dan kepada kak Seto sangat tepat dukungannya dan ucapannya, karena tidak mencuri tapi didakwa mencuri betul akan menimbulkan efek psikologis dan itu tidak boleh terjadi harus dibersihkan nama baik AAL dan harus didukung penuh oleh segala lapisan masyarakat terutama Komisi Perlindungan Anak. Didakwa bersalah walau hanya karena sandal jepit, apapun itu dituduh mencuri padahal tidak adalah sangat meyakitkan, siapapun dapat merasakannya. Siapapun harus mendukung AAL, apalagi orang tuanya dengan segenap daya upaya harus berusaha membela sekuatnya, naik banding demo ke DPR atau istana bila perlu, menuntut keadilan anaknya terkasih. Beruntung negara kita memiliki seorang kak Seto yang seorang pemerhati masalah anak yang bisa mengawal masalah2 seperti ini.
Sebelum dan sesudahnya saya mohon maaf atas komentar2 ini semoga membawa manfaat bagi pembaca.
Barcelona Hard Live and Crazy Euro
Barcelona oh Barcelona, kota ini begitu kaya akan objek wisata baik wisata modern atau wisata sejarah, itulah yang terlintas di benakku. Sebelum ku tau ada transportasi murah yaitu metro train, travellingku di Barcelona selalu memakai jasa taxi dengan biaya sangat mahal. Trip pertama ku adalah stadiun Camp Nou markas club Barca Barcelona, dengan taxi dari Pier pelabuhan ke lokasi 40 Euro, lalu tiket masuk stadiun 20 Euro.
Dari seorang teman ku dapat informasi ada akses kendaraan murah bila ingin travelling di kota ini yaitu melalui kereta bawah tanah, tapi mesti extra hati-hati katanya. Dilain kesempatan ku coba saran ini, tujuan ku kali ini adalah gereja Sagardi Family. Dengan langkah pasti ku jumpai stasiun itu, keadaannya begitu crowd dan membigungkan, kalo bingung tinggal tanya pikirku, tapi ternyata memang benar buat pemula memang sangat membingungkan, dari mulai mesin penjual tiket serta rute2nya ditambah lagi faktor bahasa, sulit menjumpai orang berbahasa Inggris.
Beruntung aku jumpai gadis Philipina dan dia jelaskan kepadaku segalanya, diapun bercerita beratnya hidup di kota ini terlebih setelah menggunakan Euro, dia berpesan hati2 banyak sekali copet berkeliaran di sini. Tibalah saat kereta ku lewat, akupun sgera memasuki, begitu pintu terbuka otomatis penumpang segera berebut masuk, saat berada di tengah2 pintu itulah kantong celanaku depan belakang digrayangi tangan wanita2 cantik secara cepat dan terlatih, aku sampai terkesima dibuatnya, aku langsung tersadar dan reflek menangkisnya lalu aku ganti membuntutinya dan ku tunjuk-tunjuk mukanya, dengan mimik memelas dia minta maaf, ku dengar dia berkata lirih “hard live sorry sorry”.
Ku bersyukur pada Allah, berkat doa ku meminta perlindungan padaNYA aku selamat dari peristiwa ini. Teryata nasehat wanita Philipina itu benar, kota ini sarat dengan copet dan penipuan. Akhir kata dimanapun kita berada KITA HARUS SELALU HATI-HATI.