Wacana pemberian gelar pahlawan akhir2 ini bergulir pada diri pak Harto ada pro kontra. Sebagai bagian dari warga negara Indonesia aku sih berpikir mengapa terburu-buru, aku pikir ini adalah wacana yang digulirkan orang2 ketiga keluarga Cendana yang ingin cari muka atau berkepentingan.
Sedari kecil aku pengagum beliau walaupun aku tidak pernah bertemu langsung dengan beliau tapi aku pernah mendekati beliau, ceritanya begini, pada waktu aku berkesempatan Sholat Jumat di Masjid Baiturohman di samping istana di lingkungan gedung Sekneg dan aku secara tak sengaja duduk tidak jauh dari shaf nya pak Harto yang kalo tidak salah beliau bersama suami Benazhir Bhuto. Di situlah pertama kalinya aku melihat wajah pak Harto secara langsung, kulitnya putih memakai jas biru tua perutnya gendut.
Profil pak Harto mirip dengan Napoleon Bonaparte yang juga sama-sama ahli strategi militer. Aku pernah mengunjungi rumah tempat lahir dan besar Napoleon di kota Ajaccio di pulau Torsica wilayah French, rumah itu terletak di antara jalan sempit diapit antara blok perumahan2. Rumah bertingkat berdinding tembok berlantai atas kayu terdapat ranjang ruang tamu dan barang2 peninggalan beliau dan surat cintanya, pengunjung harus membayar beberapa euro untuk mendapatkan tiket masuk.
Di desa Kemusuk Godean Jogjakarta aku pun pernah ke rumah pak Harto semasa kecil, pada waktu itu aku hanya ingin lewat di depannya saja tapi hujan deras datang tiba2 lalu ku belokan motorku ke dalam dan ku berteduh di paviliun / musolah kecil, di situ aku berteduh dan merenung memandangi rumah masa kecil seorang presiden. Itu terjadi sekitar tahun 1998 beberapa bulan sebelum pak Harto lengser sewaktu aku berlibur di Jogja. Yang jelas pak Harto adalah pahlawan untuk keluarganya, meminjam istilahnya ora pathekan gak jadi presiden lagi, hal yang sama pasti akan dikatakan pak Harto jika beliau masih ada ora pathekan gak jadi pahlawan beliau sudah tenang di alamnya, kita tidak usah berpolemik.


